Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat,
terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi
disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi
yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap
ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung
sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
Sejarah Angklung
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal
jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa
digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna
hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik
angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang
berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga
besar.
Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung
gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih
dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung
diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar
tanaman padi rakyat tumbuh subur.
Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya
sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai
pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan,
itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat
menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung
menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.
Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan
pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan
dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos
kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi
kehidupan (hirup-hurip).
Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen)
terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu
sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta
upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang
malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu
buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya.
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai
dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang
dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang
kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam
permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing
(tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu
sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak
padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat
mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat
disebut ngaseuk.
Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan
permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan
dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang
sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi
iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan
sebagainya.
Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero
Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi
kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan
angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena — tokoh angklung yang mengembangkan
teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda—
mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari
berbagai komunitas.
Jenis-jenis Angklung Tradisional
Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy)
digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan
semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau
dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung
ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun),
terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis
tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa
ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya
hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar
tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan
berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan
lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan
dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun
(menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.
![]()
Angklung Kanekes
Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan
tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di
pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung
Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang,
Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran,
Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang,
Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong,
Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para
penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran
kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran.
Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan
tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh
laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka
dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu),
tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan.
Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung,
ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel.
Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama
bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk.
Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung
Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung
Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di
Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan
ketuk.
Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu;
Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana,
dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya,
hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di
samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang
terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang
Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.
Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan
atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun
(berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini
dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya,
tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara
ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan
acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung
adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu
berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
![]()
Pertunjukan Angklung Dogdog Lojor
Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena
mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara
tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit
keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak).
Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka
akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa
dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi
kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami
perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak,
perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam
kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung
besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan
gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen
dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.
Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung,
Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan.
Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung
tetap.
Angklung Gubrag
Pada zaman dahulu, Kampung Cipining, Bogor, diancam oleh bencana
kelaparan akibat tanaman padi di ladang-ladang yang tidak tumbuh dengan
baik. Penduduk meyakini bahwa musibah tersebut terjadi akibat kemarahan
Dewi Sri yang sedang murung karena kurang mendapat hiburan, atau sedang
murka kepada penduduk. Penduduk yang juga meyakini bahwa Dewi Sri
bersemayam di angkasa kemudian melakukan berbagai usaha untuk mengundang
kembali Dewi Sri untuk turun ke bumi dan memberikan berkahnya bagi
kesuburan tanaman padi penduduk. Beberapa usaha dilakukan, di antaranya
adalah menyediakan sedekah sesajian, mengadakan acara-acara kesenian
seperti pertunjukan seruling, pertunjukan karinding, dan lain-lain.
![]()
Angklung Gubrag
Namun usaha-usaha tersebut tidak membawa hasil. Dewi Sri tetap tidak
berkenan turun ke bumi, dan tanaman padi penduduk tetap tidak tumbuh
dengan baik. Akhirnya, tampillah kemudian seorang pemuda yang bernama
Mukhtar. Ia mengajak kawan-kawannya pergi ke Gunung Cirangsad untuk
menebang pohon bambu surat. Bambu tersebut kemudian dikeringkan dan
sambil melakukan mati geni selama empat puluh hari, Mukhtar mengolah
bambu-bambu tersebut menjadi waditra Angklung. Angklung tersebut lalu
disempurnakan dengan ditambahkan dua buah dog-dog lojor. Ia kemudin
mengajarkan permainan Angklung kepada penduduk dan mengatur suatu
upacara bagi Dewi Sri, dengan mempergunakan kesenian Angklung sebagai
media. Ternyata setelah upacara tersebut, tanaman padi penduduk tumbuh
dengan baik, subur, dan butir-butirnya pun begitu bernas.
Hal itu diyakini sebagai pertanda bahwa Dewi Sri telah menerima upacara
tersebut, dan berkenan turun ke bumi memberikan berkah kesuburannya.
Karena Angklung tersebut ternyata mampu memikat Dewi Sri untuk turun
dari langit (dalam bahasa Sunda Ngagubrag), Angklung tersebut kemudian
dinamakan Angklung Gubrag. Angklung Gubrag dimainkan pada upacara seren
taun, yaitu upacara besarbesaran pada akhir tahun panen. Selain itu,
Angklung Gubrag juga dimainkan pada upacara-upacara hajatan keluarga,
perhelatan hari raya, hari-hari besar nasional, dan acara-acara lain
yang menyangkut dan melibatkan orang banyak.
Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan
angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa
Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan
untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan
masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang
berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah
badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar
abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen,
belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka
berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam
yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.
![]()
Pertunjukan Angklung Badeng
Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1
angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2
buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya
menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam
perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks
memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut
keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu,
disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata
tajam.
Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.
Angklung Bungko
Angklung Bungko terdapat di Desa Bungko yang terletak di perbatasan
antara Cirebon dan Indramayu. Angklung Bungko yang pertama dibuat
diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun. Walaupun begitu, Angklung
Bungko pertama masih ada, tersimpan dengan baik, walaupun sudah tidak
bernada lagi. Angklung Bungko pertama ini selalu disertakan dalam setiap
pergelaran kesenian Angklung Bungko sebagai simbol resminya pergelaran
tersebut. Angklung Bungko dilestarikan oleh seorang tokoh masyrakat
bernama Syeh Bentong atau Ki Gede Bungko, setelah dipergunakan sebagai
kesenian yang mengiringi penduduk Desa Bungko berperang melawan serangan
bajak laut. Oleh Ki Gede Bungko, Angklung Bungko kemudian dipergunakan
sebagai kesenian yang mendukung penyebaran agama Islam. Selain
jenis-jenis Angklung tersebut, masih banyak lagi jenis-jenis Angklung
lain yang tersebar di hampir seluruh pelosok daerah Jawa Barat. Tercatat
ada Angklung Jinjing yang kerap dimainkan dalam acara-acara hiburan,
ada kesenian Angklung tanpa vokal di daerah Kanekes, kesenian Angklung
dengan lirik berupa susualan di daerah Panamping, kesenian Angklung
Sered di daerah Tasikmalaya yang berupa perlombaan memainkan waditra
Angklung bagi anak-anak, dan lainlain.
![]()
Pertunjukan Angklung Bungko
Salah satu usaha pelestarian dan pengembangan kesenian Angklung
tradisional telah dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui program
pelatihan kesenian Angklung tradisional di sanggar seni Saung
Angklungnya, di mana tiap – tiap peserta pelatihan diharuskan
mempelajari dan menguasai dulu Angklung tradisional sebelum melangkah ke
pelatihan Angklung modern atau kesenian Sunda lainnya yang telah
dimodifikasi.
Angklung Buncis
Angklung Buncis dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di
Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari, Bandung. Diceritakan, Pak Bonce
yang sehari-hari bekerja sebagai pembubu ikan di sungai, suatu saat
mendapati sungai tempat ia menyimpan bubu meluap dilanda banjir. Banjir
tersebut menghanyutkan beberapa batang bambu yang kemudian ia bawa
pulang dan disimpan di atas tungku. Setelah kering, bambu-bambu tersebut
dipukul-pukul dan ternyata menghasilkan bunyi yang bagus dan nyaring.
Bambu-bambu tersebut kemudian diolah dan dibuat alat musik Angklung.
Angklung tersebut lalu dinamakan Angklung Buncis. Pak Bonce membuat
tujuh set Angklung Buncis yang kemudian dijual kepada Aki Dartiam. Oleh
Aki Dartiam, Angklung-angklung tersebut lalu dikombinasikan dengan
dog-dog dan terompet.
![]()
Angklung Buncis
Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang
berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan
sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya
pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau
kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya
fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis
berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat
penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah
penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan
mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung
dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang
tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak
diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di
kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut
terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung,
2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung
enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan
badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet,
kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal
bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud,
Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum.
Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan,
dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh
wanita khusus untuk menyanyi.
Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah
beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri
atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan
Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor),
Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung
Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan
Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak
tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan
angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog)
oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi
tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu
lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah
dan dimainkan secara orkestra besar.
Angklung Modern (Padaeng)
Pada tahun 1938, Daeng Soetigna, seorang guru Hollandsch Inlandsche
School (HIS) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dinilai telah berhasil
dengan baik menempatkan kembali kedudukan angklung di tengah-tengah
masyarakat dengan melakukan modernisasi alat musik Angklung dari alat
yang sederhana dan hanya berskala tangga nada pentatonis menjadi
Angklung kompleks yang berskala tangga nada diatonis.
![]()
Daeng Soetigna
Angklung ini kemudian dikenal dengan nama Angklung Daeng atau biasa
disebut juga Angklung Padaeng. Angklung Daeng, dilihat dari tata cara
memainkan dan skala tangga nadanya, memungkinkan menjangkau
repertoar-repertoar lagu populer, tidak saja yang terdapat dalam
khasanah musik nasional, tetapi juga musik Barat lainnya.
Daeng sejak kecil sangat menggemari angklung. Pada waktu mengajar di HIS
Kuningan, Daeng mempelajari seluk beluk Angklung secara lebih mendalam,
termasuk proses pembuatan dan pemeliharaannya dari seorang tokoh
pembuat angklung yang bernama Pak Djaja. Daeng yang saat masih belajar
di Kweekschool mempelajari musik Barat, kemudian mencoba membuat
Angklung yang mempergunakan skala tangga nada diatonis. Daeng menganggap
Angklung yang berskala diatonis cenderung lebih komunikatif untuk
diajarkan di sekolah-sekolah. Di samping itu, masyarakat luas telah
lebih mengenal skala tangga nada diatonis dibandingkan skala tangga nada
pentatonis.
![]()
Angklung Daeng
Dengan bantuan Pak Djaja, Daeng berhasil membuat satu set Angklung
diatonis yang kemudian diperkenalkan pertama kali kepada anak-anak
Pramuka dimana Daeng sendiri bertindak sebagai pembina. Alat musik
tersebut kemudian dengan cepat diterima menjadi sarana kesenian dalam
kehidupan kelompok Pramukanya, terutama dalam pertemuan-pertemuan
kepramukaan dan perkemahan. Sementara itu, Angklung Padaeng di Kuningan
mulai terkenal secara luas di berbagai kalangan. Pada tahun 1946 grup
kesenian Angklung Daeng dipercaya mempertunjukan kebolehannya pada acara
hiburan dalam Perundingan Linggar Jati. Pada tahun 1950, Daeng pindah
ke Bandung dan mengajar di SMPN 2 Bandung. Selama di Bandung pula, Daeng
mengembangkan Angklung diatonis dan diberikan kehormatan untuk
menampilkannya dalam acara kesenian Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
![]()
Pertunjukan Angklung Daeng
Perbedaan Angklung tradisional dengan Angklung Daeng, selain dalam skala
tangga nada, juga terdapat dalam cara memainkannya. Angklung
tradisional merupakan Angklung renteng yang dimainkan oleh seorang
pemain saja, sedangkan Angklung daeng dibuat untuk dimainkan bersama, di
mana setiap pemain memainkan hanya satu nada saja, dan harmoni lagu
dapat dicapai dengan kerjasana yang rapi antara para pemain. Sebagai
seorang guru, Daeng melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang positif
untuk pendidikan, terutama dalam pendidikan pembentukan watak. Tampak
dalam permainan Angklung sifat-sifat bekerja sama, disiplin, kecermatan,
keterampilan, dan rasa tanggung jawab. Demikian pula mengenai hal-hal
yang merupakan dasar-dasar pokok dalam pendidikan musik, seperti
membangkitkan perhatian terhadap musik, menghidupkan musik, dan
mengembangkan musikalitas, melodi, ritme, dan harmoni.
![]()
Daeng Soetigna tidak saja berhasil memperkaya khazanah alat musik
Angklung, yang sebelumnya hanya berlaraskan tangga nada tradisional
(pentatonis), menjadi bertambah dengan adanya Angklung berlaraskan
diatonis kromatis, tetapi Bapak Daeng juga sangat berjasa di dalam
pengembangannya menjadi perangkat musik modern, yang meliputi melodi
seluas 3½ oktaf, dilengkapi dengan Angklung akor atau akompanyemen
(besar dan kecil), untuk mengiringi alat musik Angklung tersebut.