Kamis, 17 Oktober 2013

Mafia dan Pencurian Artefak Emas Museum Gajah


Mafia dan Pencurian Artefak Emas Museum Gajah
Patung Ganesha yang merupakan salah satu dari benda koleksi di Museum Gajah di jalan Merdeka Barat, Jakarta, (12/9). TEMPO/Eko Siswono Toyudho
TEMPO.CO, Jakarta -- Empat benda artefak purbakala diduga dicuri dari Museum Nasional atau Museum Gajah, Gambir, Jakarta Pusat, pada Rabu, 11 September 2013. Pencurian artefak berlapis emas ini memunculkan spekulasi "mafia" artefak dan benda purbakala berkeliaran.

Invertigasi majalah Tempo, 28 September 2008 pernah mengulas soal benda purbakala ini berjudul "Lambang dalam Pusaran Mafia Purbakala".

Lambang merupakan arkeolog yang tewas di selokan jalan lingkar luar utara Yogyakarta pada Subuh Februari 2008. Kematian pria 56 tahun itu memantik banyak pertanyaan. Ketika itu, Lambang Babar Purnomo sedang getol membongkar jaringan pencurian benda-benda purbakala, mulai fosil situs Sangiran sampai koleksi Museum Radya Pustaka, Surakarta.

Sumber-sumber Tempo yakin Lambang dibunuh karena upayanya membongkar kejahatan menyangkut benda purbakala. Ia dikenal vokal, tak kenal kompromi, dan berani. Publikasi soal stegodon, rekomendasinya tentang pemugaran situs Ungaran, dan kegigihannya membongkar pencurian koleksi Radya Pustaka adalah sederet aktivitas Lambang sebelum meninggal.

Rekomendasi Lambang hampir menghentikan alih fungsi situs Sarkostik di Ungaran, Semarang. Padahal, alih fungsi gedung kesenian bikinan Belanda pada 1910 itu menjadi mal sudah berjalan. Pemugaran pun sempat mangkrak. Departemen Kebudayaan kemudian memutuskan pembangunan mal jalan terus asalkan gedung utama tak diusik. "Urusan sarkostik sudah beres," kata Dede Odi, Direktur Umum PT Hardas Bangun Persada, kontraktor proyek.

Ada yang menduga pembunuh Lambang kelompok runner yang tak mau bisnisnya diusik. Runner adalah sebutan khas di dunia arkeologi untuk makelar. Posisinya ada di antara pemilik barang, galeri, balai lelang, dan kolektor.

Sebagai operator lapangan, runner menggarap semua pekerjaan "kotor", mulai dari membayar informan, memalsukan barang, menyuap pamong, memberi polisi amplop, jika perlu "membungkam" pihak-pihak pengganggu. Pendeknya, runner bertugas menjamin benda kuno sampai dengan aman ke tangan kolektor.

Lambang bukan tak sadar ia bisa terjepit dalam pelbagai kepentingan dalam mata rantai itu. "Aku sudah siap dengan segala risiko," katanya kepada Andrea Amborowatiningsih. Andrea, 25 tahun, bekas pegawai Radya Pustaka yang melaporkan hilangnya koleksi museum ke Balai Pelestarian.

Lambang, kata Andrea, bersemangat mengungkap perdagangan arca perunggu karena ini kasus besar dalam dunia arkeologi Indonesia. Pada November 2007, inventarisasi Balai Pelestarian menemukan koleksi yang hilang sebagian besar patung langka. Dewi Cunda dan Dyani Bodisatwa Avalokiteshvara, misalnya. Patung dewi kebajikan dari abad ke-8 bertangan delapan ini hanya ada di Indonesia dan India. Seorang kolektor menaksir harga Cunda bisa tembus Rp 20 miliar di balai lelang.

Jadi, siapa yang membunuh Lambang? Seorang reserse berkata kepada Tempo, "Itu urusan lima menit, jika mau," katanya. Polisi bisa melacak identitas lelaki bergegas pergi yang dilihat saksi Erni Permatasari pagi itu. "Saya heran, ada orang minta tolong, kok, dia malah jalan buru-buru," kata Erni. Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah Lambang dibunuh atau sekadar sial jatuh dari sepeda motor.

4 Kuliner Khas Cirebon yang Menggugah Selera

Citizen6, Cirebon: Cirebon adalah kotaku. Kota dengan letak geografis yang berada di Ujung Jawa Barat ini berbatasan dengan Jawa Tengah tepatnya Kota Brebes.

Di Cirebon banyak sekali makanan khas, baik berupa cemilan maupun makanan berat. Cemilan yang khas dari Cirebon di antaranya emping, kerupuk udang, kerupuk kulit, gapit, dan masih banyak lagi yang lain. Sedangkan makanan berat atau kuliner dari Cirebon banyak yg sudah tidak asing di kalangan pecinta kuliner masakan Indonesia yaitu:
1. Empal Gentong
Masakan yang serupa gulai ini dimasak dengan daging sapi, kuah santan, dan bumbu kuning, lalu ditaburi kucai, dan bawang goreng. Namun tidak lengkap rasanya jika tanpa cabai merah bubuk. Empal Gentong ini dimasak di atas kayu bakar dengan menggunakan gentong yang terbuat dari gerabah. Di sepanjang Jalan Tengahtani banyak rumah makan yang menjual empal gentong ini. Apalagi saat weekend, rumah makan tersebut ramai dikunjungi para pemburu kuliner yang kebanyakan datang dari luar kota.
2. Tahu Gejrot
Jajanan yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi, karena sekarang banyak dijumpai di daerah lain. Tahu gejrot terdiri dari tahu matang yang dipotong-potong, ditambah bawang merah, dan cabai rawit yang dihaluskan agak kasar. Lalu disiram kuah yang terbuat dari gula merah dan cuka. Tahu gejrot disajikan dengan piring kecil yang terbuat dari gerabah. Kuliner yang satu ini sangat pas disantap saat siang hari, yang pasti membuat mata melek.
3. Nasi Lengko
Nasi Lengko terdiri dari nasi putih yang diberi potongan tempe dan tahu goreng, lalu diberi kecambah matang, dan potongan mentimun. Tidak ketinggalan irisan kucai, bawang goreng serta kecap yang ditaburi di atasnya. Makanan ini harganya relatif murah tapi tidak kalah nikmat dengan empal gentong.
4. Docang
Makanan ini dahulunya adalah makanan para wali, karena memanfaatkan bahan-bahan murah tetapi rasanya lezat. Docang adalah sejenis lontong sayur yang terdiri dari potongan lontong, kecambah matang, daun singkong matang, diberi parutan kelapa, lalu disiram dengan sayur lodeh dan kerupuk. Docang banyak dijumpai saat pagi hari untuk sarapan.
Cirebon juga mempunyai berbagai oleh-oleh cinderamata seperti batik. Batik Cirebon yang terkenal adalah motif Mega Mendung, yang sekarang banyak digunakan oleh kaum elit. Batik ini banyak dijumpai di daerah Trusmi, Kabupaten Cirebon. Motifnya yang kalem akan tetapi dengan corak warna cerah, sangat kontras sekali. Itulah beberapa yang khas dari kotaku Cirebon

Pemanfaatan TIK

Pemanfaatan teknologi informasi bisa tambah kualitas pelayanan publik

Penyelenggaraan dan pemanfaatan teknologi informatika terus diarahkan guna terwujudnya Pemerintah Aceh menuju Pemerintah Aceh Birokrasi Teknologi Informatika

    • Kamis, 03 Oktober 2013 19:20:00 WIB
Ilustrasi teknologi informasi dan komunikasi
RAPAT Kerja Network Client Pemerintah Aceh baru pertama kali dilaksanakan. Kegiatan tersebut dinilai penting bagi Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telekomunikasi dan Pemerintah Aceh.
"Terutama dalam penyelenggaraan dan pengelolaan bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun Pemerintah Aceh yang berbasis elektronik (e-goverment)," ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh Said Rasul saat membuka acara Raker Network Client Pemerintah Aceh di Hotel Hermes Pallace, Banda Aceh pada Kamis 3 Oktober 2013.
Dengan acara tersebut, kata dia, kemampuan untuk mengakses serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi mampu menambah kualitas kehidupan serta pelayanan publik yang semakin mudah dan semakin cepat.
"Kita menyadari bahwa saat ini teknologi informatika sudah menjadi kebutuhan mutlak di semua sektor kehidupan masyarakat termasuk dalam administrasi pemerintahan," ujarnya.
Untuk itu, kata dia, penyelenggaraan dan pemanfaatan teknologi informatika terus diarahkan guna terwujudnya Pemerintah Aceh menuju Pemerintah Aceh Birokrasi Teknologi Informatika. [](bna)
- See more at: http://atjehpost.com/nanggroe_read/2013/10/03/67973/15/5/Pemanfaatan-teknologi-informasi-bisa-tambah-kualitas-pelayanan-publik#sthash.vqdtH7qe.dpuf

Microsoft dan P4TK Kembangkan Pendidikan Berbasis Teknologi Informasi

metrotvnews.com, Yogyakarta: Microsoft Indonesia menjalin kerja sama dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Yogyakarta dalam pengembangan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

"Kerja sama itu merupakan wujud komitmen kami dalam memajukan pendidikan di Indonesia khususnya bidang teknologi informasi dan komunikasi," kata
Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Andreas Diantoro di Yogyakarta, Jumat (20/9).

Pada penandatanganan nota kesepahaman antara Microsoft Indonesia dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(P4TK), ia mengatakan, pendidikan menentukan masa depan Indonesia dan bagaimana negeri ini nanti.

Oleh karena itu, kata dia, transformasi pendidikan adalah faktor utama dalam berkompetisi pada abad ke-21 di mana tenaga kependidikan mempunyai
peran penting sebagai agen perubahan. "Kerja sama itu diharapkan dapat membantu akses digital dan meningkatkan metode pembelajaran melalui teknologi informasi dan komunikasi bagi pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik," katanya.

Menurut dia, ruang lingkup kerja sama itu meliputi dua hal, yakni penyelenggaraan Program Microsoft Partners in Learning dan Program Microsoft Office365 for Education.

Program Partners in Learning bertujuan untuk meningkatkan metode pembelajaran pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik berbasis tekonologi informasi dan komunikasi. Program Office365 for Education merupakan layanan email gratis dengan menyediakan satu "account" dan "password" untuk akses ke berbagai layanan perangkat lunak Microsoft berbasis internet, di mana pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik dapat menggunakannya sebagai "account" utama mereka. (Antara)

Tujuh Kesepakatan KTT APEC 2013


Selasa, 08 Oktober 2013, 15:20 WIB
Presiden SBY saat membuka KTT APEC 2013.
Presiden SBY saat membuka KTT APEC 2013.
REPUBLIKA.CO.ID, NUSA DUA – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) mencapai puncaknya pada Selasa (8/10). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan tujuh hal yang menjadi sorotan dalam pertemuan tingkat tinggi 21 pimpinan negara anggota APEC.

Pertama, para pimpinan (leaders) negara anggota sepakat untuk melipatgandakan upaya untuk mencapai Bogor Goals pada 2020. Pimpinan berbagi pandangan bahwa semua ekonomi APEC harus memperoleh hasil dari kerja sama APEC.

Kedua, APEC sepakat untuk meningkatkan perdagangan intra APEC atau perdagangan intra daerah, melalui fasilitasi perdagangan, pembangunan kapasitas, dan fungsi sistem perdagangan multilateral. Referensi perdagangan multilateral merupakan pengakuan bahwa meskipun promosi,seperti kerjasama perdagangan intra APEC membawa manfaat konkrit untuk ekonomi APEC, keberhasilan rezim multilateral masih sangat kritis.

“Dalam hal ini, kami telah menyepakati deklarasi yang mendukung sistem perdagangan multilateral. Kami juga sepakat untuk memastikan keberhasilan pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kesembilan pada Desember 2013 nanti di Bali,” ujar Presiden Yudhoyono dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/10).

Ketiga, anggota APEC sepakat untuk mempercepat pembangunan fisik, institusional, dan konektivitas people to people. Dalam hal ini, lanskap strategis dan konektivitas akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dan menjamin keamanan kerja.

Presiden Yudhoyono menyoroti bahwa konektivitas dapat membantu mengurangi biaya produksi dan transportasi, memperkuat rantai pasokan regional, dan meningkatkan iklim usaha di daerah. Pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur dan konektivitas akan menciptakan lebih banyak pekerjaan dan menjamin keamanan kerja.

Keempat, anggota APEC mengeaskan kembali komitmennya untuk mencapai kekuatan yang seimbang, dalam hal pertumbuhan global, berkelanjutan dan inklusif. Dalam proses ini,anggota APEC sepakat untuk memfasilitasi partisipasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), dan wirausahawanperempuan. “UMKM adalah tulang punggung perekonomian kita,” ujar Presiden Yudhoyono.

Kelima, mengingat keterbatasan sumber daya. Anggota APEC bersepakat untuk bekerja sama meningkatkan pangan regional, energi, dansumber daya air. Upaya ini ditujukan untuk menanggapi tantangan pertumbuhan penduduk dan dampak negative perubahan iklim.Pada KTT di Bali ini, anggota-anggota APEC mulai melihat masalah ini secara holistic.

Keenam, anggota APEC sepakat untuk memastikan sinergi APEC dan saling melengkapi dalamhal kerja sama multilateral dan regional lainnya, misalnya KTT Asia Timur dan G20. Hal ini penting, kata Presiden Yudhoyono, untuk menciptakan arsitektur kemitraan ekonomi.

Ketujuh, anggota APEC sepakat untuk bekerja sama erat dengan sektor bisnis melalui APEC Business Advisory Council (ABAC) untuk mencapai tujuan perdagangan bebas dan terbuka, serta investasi. Kolaborasi yang kian dekat akan menghasilkan situasi yang win-win, terutama pada saat ekonomi globalbelum sepenuhnya pulih.

Secara keseluruhan, Presiden Yudhoyono menilai KTT APEC 2013 berhasil dan sangat produktif.

Pemanasan Global

Pemanasan global


Anomali suhu permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada suhu rata-rata dari 1940 sampai 1980.
Pemanasan global (Inggris: global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Manfaat Bahasa Inggris Secara Global

Apa yang membuat Bahasa Inggris penting di era globalisasi?  Mungkin itu adalah salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang timbul dalam pikiran kita sesudah membaca judul dari artikel ini. Jawaban atas pertanyaan tersebut sangatlah sederhana yaitu karena Bahasa Inggris sudah menjadi sudah menjadi bahasa universal yang digunakan dalam dunia teknologi, pendidikan, politik, perdagangan, dan lain sebagainya. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling crucial, dan suka atau tidak suka, saat ini Bahasa Inggris sudah sangat mendominasi semua aspek dalam hal komunikasi. Kita bisa melihat hampir semua electronic devices menggunakan Bahasa Inggris. Sebagian besar Negara-negara di Asia juga menggunakan Bahasa Inggris sebagai ’Medium of Instruction’ ataupun menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua sesudah bahasa nasional mereka. Sebut saja Filipina, Singapura, dan Malaysia.  Bahasa Inggris merupakan alat komunikasi yang paling sering digunakan oleh dunia.

Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional dan merupakan salah satu yang paling populer dan paling dituturkan di dunia teknologi. Kita perlu mengetahui bahasa Inggris untuk belajar ilmu apa pun subjek atau bahasa komputer manapun. Kita perlu mengenal bahasa Inggris untuk berkomunikasi secara efektif terlalu banyak negara maju.Inggris sangat penting dalam hidup kita itu perlu dalam setiap bidang. Jika kita tahu inggris tidak pernah merasa lidah kita pasang di depan orang lain. Ini adalah bahasa lisan secara luas. Orang-orang bangga dalam berbicara bahasa Inggris. Jika kita tidak tahu bahasa Inggris, kita akan kaki di belakang yang lain. Inggris adalah suatu kebutuhan jam. Hari ini kita tidak dapat menyangkal pentingnya bahasa Inggris dalam hidup kita.

Bahasa Inggris akan memudahkan kita dalam berkomunikasi dengan orang-orang dari negara manapun dalam suatu bisnis, belajar dan perkenalan. Namun pada dasarnya, kita akan mampu menguasai seluruh ilmu yang kita serap seperti dengan cara bersosial dengan siapapun dan dimanapun kita berada

Judul Angklung

Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Sejarah Angklung
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena — tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Jenis-jenis Angklung Tradisional

Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.



Angklung Kanekes

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.


Pertunjukan Angklung Dogdog Lojor

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

Angklung Gubrag
Pada zaman dahulu, Kampung Cipining, Bogor, diancam oleh bencana kelaparan akibat tanaman padi di ladang-ladang yang tidak tumbuh dengan baik. Penduduk meyakini bahwa musibah tersebut terjadi akibat kemarahan Dewi Sri yang sedang murung karena kurang mendapat hiburan, atau sedang murka kepada penduduk. Penduduk yang juga meyakini bahwa Dewi Sri bersemayam di angkasa kemudian melakukan berbagai usaha untuk mengundang kembali Dewi Sri untuk turun ke bumi dan memberikan berkahnya bagi kesuburan tanaman padi penduduk. Beberapa usaha dilakukan, di antaranya adalah menyediakan sedekah sesajian, mengadakan acara-acara kesenian seperti pertunjukan seruling, pertunjukan karinding, dan lain-lain.


Angklung Gubrag

Namun usaha-usaha tersebut tidak membawa hasil. Dewi Sri tetap tidak berkenan turun ke bumi, dan tanaman padi penduduk tetap tidak tumbuh dengan baik. Akhirnya, tampillah kemudian seorang pemuda yang bernama Mukhtar. Ia mengajak kawan-kawannya pergi ke Gunung Cirangsad untuk menebang pohon bambu surat. Bambu tersebut kemudian dikeringkan dan sambil melakukan mati geni selama empat puluh hari, Mukhtar mengolah bambu-bambu tersebut menjadi waditra Angklung. Angklung tersebut lalu disempurnakan dengan ditambahkan dua buah dog-dog lojor. Ia kemudin mengajarkan permainan Angklung kepada penduduk dan mengatur suatu upacara bagi Dewi Sri, dengan mempergunakan kesenian Angklung sebagai media. Ternyata setelah upacara tersebut, tanaman padi penduduk tumbuh dengan baik, subur, dan butir-butirnya pun begitu bernas.

Hal itu diyakini sebagai pertanda bahwa Dewi Sri telah menerima upacara tersebut, dan berkenan turun ke bumi memberikan berkah kesuburannya. Karena Angklung tersebut ternyata mampu memikat Dewi Sri untuk turun dari langit (dalam bahasa Sunda Ngagubrag), Angklung tersebut kemudian dinamakan Angklung Gubrag. Angklung Gubrag dimainkan pada upacara seren taun, yaitu upacara besarbesaran pada akhir tahun panen. Selain itu, Angklung Gubrag juga dimainkan pada upacara-upacara hajatan keluarga, perhelatan hari raya, hari-hari besar nasional, dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang banyak.

Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.


Pertunjukan Angklung Badeng

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.

Angklung Bungko
Angklung Bungko terdapat di Desa Bungko yang terletak di perbatasan antara Cirebon dan Indramayu. Angklung Bungko yang pertama dibuat diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun. Walaupun begitu, Angklung Bungko pertama masih ada, tersimpan dengan baik, walaupun sudah tidak bernada lagi. Angklung Bungko pertama ini selalu disertakan dalam setiap pergelaran kesenian Angklung Bungko sebagai simbol resminya pergelaran tersebut. Angklung Bungko dilestarikan oleh seorang tokoh masyrakat bernama Syeh Bentong atau Ki Gede Bungko, setelah dipergunakan sebagai kesenian yang mengiringi penduduk Desa Bungko berperang melawan serangan bajak laut. Oleh Ki Gede Bungko, Angklung Bungko kemudian dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung penyebaran agama Islam. Selain jenis-jenis Angklung tersebut, masih banyak lagi jenis-jenis Angklung lain yang tersebar di hampir seluruh pelosok daerah Jawa Barat. Tercatat ada Angklung Jinjing yang kerap dimainkan dalam acara-acara hiburan, ada kesenian Angklung tanpa vokal di daerah Kanekes, kesenian Angklung dengan lirik berupa susualan di daerah Panamping, kesenian Angklung Sered di daerah Tasikmalaya yang berupa perlombaan memainkan waditra Angklung bagi anak-anak, dan lainlain.


Pertunjukan Angklung Bungko

Salah satu usaha pelestarian dan pengembangan kesenian Angklung tradisional telah dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui program pelatihan kesenian Angklung tradisional di sanggar seni Saung Angklungnya, di mana tiap – tiap peserta pelatihan diharuskan mempelajari dan menguasai dulu Angklung tradisional sebelum melangkah ke pelatihan Angklung modern atau kesenian Sunda lainnya yang telah dimodifikasi.

Angklung Buncis
Angklung Buncis dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari, Bandung. Diceritakan, Pak Bonce yang sehari-hari bekerja sebagai pembubu ikan di sungai, suatu saat mendapati sungai tempat ia menyimpan bubu meluap dilanda banjir. Banjir tersebut menghanyutkan beberapa batang bambu yang kemudian ia bawa pulang dan disimpan di atas tungku. Setelah kering, bambu-bambu tersebut dipukul-pukul dan ternyata menghasilkan bunyi yang bagus dan nyaring. Bambu-bambu tersebut kemudian diolah dan dibuat alat musik Angklung. Angklung tersebut lalu dinamakan Angklung Buncis. Pak Bonce membuat tujuh set Angklung Buncis yang kemudian dijual kepada Aki Dartiam. Oleh Aki Dartiam, Angklung-angklung tersebut lalu dikombinasikan dengan dog-dog dan terompet.


Angklung Buncis

Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.
Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.

Angklung Modern (Padaeng)
Pada tahun 1938, Daeng Soetigna, seorang guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, dinilai telah berhasil dengan baik menempatkan kembali kedudukan angklung di tengah-tengah masyarakat dengan melakukan modernisasi alat musik Angklung dari alat yang sederhana dan hanya berskala tangga nada pentatonis menjadi Angklung kompleks yang berskala tangga nada diatonis.


Daeng Soetigna

Angklung ini kemudian dikenal dengan nama Angklung Daeng atau biasa disebut juga Angklung Padaeng. Angklung Daeng, dilihat dari tata cara memainkan dan skala tangga nadanya, memungkinkan menjangkau repertoar-repertoar lagu populer, tidak saja yang terdapat dalam khasanah musik nasional, tetapi juga musik Barat lainnya.

Daeng sejak kecil sangat menggemari angklung. Pada waktu mengajar di HIS Kuningan, Daeng mempelajari seluk beluk Angklung secara lebih mendalam, termasuk proses pembuatan dan pemeliharaannya dari seorang tokoh pembuat angklung yang bernama Pak Djaja. Daeng yang saat masih belajar di Kweekschool mempelajari musik Barat, kemudian mencoba membuat Angklung yang mempergunakan skala tangga nada diatonis. Daeng menganggap Angklung yang berskala diatonis cenderung lebih komunikatif untuk diajarkan di sekolah-sekolah. Di samping itu, masyarakat luas telah lebih mengenal skala tangga nada diatonis dibandingkan skala tangga nada pentatonis.


Angklung Daeng

Dengan bantuan Pak Djaja, Daeng berhasil membuat satu set Angklung diatonis yang kemudian diperkenalkan pertama kali kepada anak-anak Pramuka dimana Daeng sendiri bertindak sebagai pembina. Alat musik tersebut kemudian dengan cepat diterima menjadi sarana kesenian dalam kehidupan kelompok Pramukanya, terutama dalam pertemuan-pertemuan kepramukaan dan perkemahan. Sementara itu, Angklung Padaeng di Kuningan mulai terkenal secara luas di berbagai kalangan. Pada tahun 1946 grup kesenian Angklung Daeng dipercaya mempertunjukan kebolehannya pada acara hiburan dalam Perundingan Linggar Jati. Pada tahun 1950, Daeng pindah ke Bandung dan mengajar di SMPN 2 Bandung. Selama di Bandung pula, Daeng mengembangkan Angklung diatonis dan diberikan kehormatan untuk menampilkannya dalam acara kesenian Konferensi Asia Afrika tahun 1955.


Pertunjukan Angklung Daeng

Perbedaan Angklung tradisional dengan Angklung Daeng, selain dalam skala tangga nada, juga terdapat dalam cara memainkannya. Angklung tradisional merupakan Angklung renteng yang dimainkan oleh seorang pemain saja, sedangkan Angklung daeng dibuat untuk dimainkan bersama, di mana setiap pemain memainkan hanya satu nada saja, dan harmoni lagu dapat dicapai dengan kerjasana yang rapi antara para pemain. Sebagai seorang guru, Daeng melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang positif untuk pendidikan, terutama dalam pendidikan pembentukan watak. Tampak dalam permainan Angklung sifat-sifat bekerja sama, disiplin, kecermatan, keterampilan, dan rasa tanggung jawab. Demikian pula mengenai hal-hal yang merupakan dasar-dasar pokok dalam pendidikan musik, seperti membangkitkan perhatian terhadap musik, menghidupkan musik, dan mengembangkan musikalitas, melodi, ritme, dan harmoni.


Daeng Soetigna tidak saja berhasil memperkaya khazanah alat musik Angklung, yang sebelumnya hanya berlaraskan tangga nada tradisional (pentatonis), menjadi bertambah dengan adanya Angklung berlaraskan diatonis kromatis, tetapi Bapak Daeng juga sangat berjasa di dalam pengembangannya menjadi perangkat musik modern, yang meliputi melodi seluas 3½ oktaf, dilengkapi dengan Angklung akor atau akompanyemen (besar dan kecil), untuk mengiringi alat musik Angklung tersebut.