Pengaruh-pengaruh negatif dari emosi dalam kegiatan olahraga, antara lain :
a. Gelisah
Gelisah adalah gejala takut atau dapat pula dikatakan taraf takut yang
masih ringan.Biasanya rasa gelisah ini terjadi pada saat menjelang
pertanndingan akan dimulai. Rasa gelisah akan timbul apabila seseorang
itu belum mengalami sendiri apa yang akan dilakukan ataupun adanya
persaan sentimen, kebingngan atau ketidak pastian. Rasa gelisah akan
dapat berubah menggembirakan manakala penyebab datanngnya rasa gelisah
(pertandingan akan dimulai) tertunda pelaksanaanya.
Cara yang baik untuk menghindari atau mengurangi timbulnya kegelisahan
adalah dengan jalan merasionalisasikan emosi, yaitu segala hal yang
negatif dianggap positif. Hal-hal demikian dapat dilatih, yaitu dengan
membiasakan untuk:
1. Merumuskan persoalan-persoalan yang sebenarnya merupakan sebab timbulnya kegelisahan secara jelas.
2. Memperhitungkan segala kemungkinan akibat yang terjadi dari yang paling ringan sampai yang terburuk.
3. Membuat persiapan untuk menghapadapi setiap kemungkinan yang
biasanya terjadi dengan segala rumus pemecahannya yang dapat dilakukan
baik oleh diri sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
4. Menghadapi persoalan-persoalan dengan rasa siap dan tabah serta percaya pada kemampuan diri sendiri.
Dengan cara –cara tersebut dapat diharapkan kegelisahan yang menjangkiti
para olahragawan sedikit demi sedikit dapat dikurangi atau bahkan dapat
dihindarkan.
b. Takut
Hampir semua orang mempunyai pengalaman-penaglaman yang menakutkan .
Takut biasanya berakar pada pengalaman sebelumnya atau pada masa-masa
lampau yang pengaruhnya terhadap tingkah laku dan kepribadian seseorang
akan berbekas sepanjang hidup.Takut banyak macamnya, misalnya takut pada
binatang, takut sendirian, takut jika berada di depan orang banyak,
takut akan timbulnya cidera dan sebagainya.
Kegelisahan yang menjangkiti para atlet dapat berubah menjadi ketakutan
apabila tidak mendapat penyelesaian yang sebaik-baiknya.Rasa takut
dapat memberi pengaruh yang negatif atau yang positif terhadap
perkembanagan kepribadian seseorang. Dalam batas-batas yang normal rasa
takut akan memberi pengaruh yang positif, karena dengan rasa takut tadi,
orang akan lebih berhati-hati terahadap apa yang mereka takuti,misalnya
saja dia jadi lebih siap atau sebaliknya mungkin dia lebih menghindari.
Rasa takut lebih baik jangan dimatikan sama sekali,tetapi dikendalaikan.
Misalnya seorang atlit yang tidak memiliki ketakuatan terhadap
kekalahan dalam pertandingan yang akan diikuti.Ia akan berbuat apa yang
dikehendakinya, akhirnya ia akan terseret oleh perasaan ” kalah ya
biar”. Usaha yang kira-kira dirasa terlalu berat untuk meraih keunggulan
nilai,cenderung untuk tidak dilaksanakan , karena dianggap terlalu
menghabiskan tenaga di samping juga sikap berhati-hati menjadi
berkurang. Konsentrasi menjadi buyar dan usaha-usaha untuk mencari
kelemahan-kelemahan lawan tidak ada lagi.
Rasa takut juga tidak boleh ditanamkan sehingga menyebabkan orang sama
sekali tidak berani mengambil resiko, akhirnya orang tersebut terlalu
banyak perhitungan yang kadang-kadang tidak diperlukan.Akibatnya orang
tersebut tidak pernah mau mencoba dan berusaha untuk mengatasi ketakutan
yang timbul.
Pada kehidupan sehari-hari, rasa takut ini banyak ditimbulkan oleh
orang-orang yang justru lebih dewasa, menakut-nakuti anaknya supaya
tunduk kepada kehendak oerang yang sudah dewasa tersebut.Kadang-kadang
orang tua yang tidak mau sulit-sulit lebih cenderung untuk
menakut-nakuti anaknya.Karena anak yang takut lebih mudah dikuasai
sesuai dengan tujuan orang yang menakut-nakuti tersebut.Meskipun pada
mulanya menakut-nakuti itu hanya bertujuan agar si anak tunduk kepada
perintah orang tua saja,tetapi kalau terlanjur sulit untuk disembuhkan,
sehingga perkembangan si anak itu sendiri akan terganggu.
Yang paling baik adalah kalau takut itu dikendalikan, artinya tidak
ditanamkan , tetapi juga tidak dihilangkan sama sekali. Hal ini memang
sulit sampai berapa jauh takut itu harus dikendalikan, karena kalau
salah akan menjadi hoby.
Dalam dunia olahraga,rasa takut kalah di dalam batas-batas normal adalah
baik, karena dengan demikian seseorang akan mempersiapkan diri untuk
menghindari kekalahan.Melatih diri, berusaha mencari kelemahan-kelemahan
lawan, penghematan tenaga/penghematan penghamburan tenaga yang tidak
perlu dan sebagainya.Jadi jangan sekali-kali mengartikan pengendalian
rasa takut sama dengan menanamkan rasa takut.
Menurut beberapa pendapat yang dikumpulkan oleh Reuben B.Frost dari
Springfield College mengenai bagaimana harus menangani masalah takut
ini, antara lain diajukan beberapa pendapat sebagai berikut:
Mencoba menemukan dan memahami sebab-sebab terjadinya rasa takut.
Mendekati dan mengenali situasi yang ditakuti secara sedikit demi sedikit.
Mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang ditakuti dengan membuat perencanaan yang pasti dan taktik yang tepat guna.
Menguji dan menganalisis alasan-alasan menngapa sampai terjadi
ketakutan-ketakutan. Menolong mencarikan sebab-sebab timbulnya
kesulitan-kesulitan yanng ditakuti (adakah pengaruh kecelakaan yang dulu
atau memang belum mengenal problemnya).
Menanamkan keakraban antar anggota group dan rasa saling percaya antar anggota (berdiskusi secara bersama-sama).
Memberikan sugesti bahwa orang-orang yang banyak pengalaman selalu memberikan pertolongan kepada yang muda-muda.
Meningkatkan kekuatan dan keterampilan (skill).
Kerjakan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa takut.
Kebanyakan rasa takut akan lenyap pada waktu kegiatan-kegiatan yang ditakutkan itu telah dilakukan.
c. Marah
Marah dapat dikatakan sebagai reaksi kuat atas sesuatu yang tidak
menyenangkan dan mengganggu pada seseorang. Ragamnya mulai dari
kejengkelan yang ringan sampai angkara murka dan mengamuk.Ketika itu
terjadi maka detak debar jantung semakin cepat, tekanan darah dan aliran
adrenalin juga meningkat. Kalau sudah begini bisa-bisa perubahan
psikologis akan menyebabkan timbulnya reaksi agresif dan pelakuan kasar
dari sang pemarah.
Walau bersifat alami dan normal namun marah tidak timbul dengan
sendirinya Ia merupakan respon dari seseorang ketika mendapat ancaman,
hal yang membahayakan, kekerasan verbal, perlakuan tidak adil,
kebohongan dan manipulasi oleh orang lain. Dengan kata lain marah timbul
karena batas-batas emosi yang dimiliki telah terganggu atau terancam.
Secara internal, marah bisa terjadi ketika menghadapi masalah-masalah
pribasi, mengingat peristiwa yang sangat mengganggu pikiran, kekecewaan
pada situasi lingkungan, kurang percaya diri,dsb. Sementara secara
eksternal, marah bisa timbul karena,hak-hak pribadinya diperlakukan
tidak adil dan mendapat ancaman.
Karena sifat marah memerlukan spontanitasdan ditujukan dalam
bentuk-bentuk agresifitas,maka jalan paling baik kalau atlit-atlit
tersebut dapat menghambat spontanitas dan mengurangi bentuk-bentuk
agresifitasnya, artinya menaggapi kemarahan itu dengan usaha-usaha yang
positif.Kalau olahraga yang dapat time-out lebih baik diambil time out
dulu agar spontanitas kemarahan itu tertunda pelaksanaannya.Meskipun
hanya beberapa detik,biasanya sudah cukup untuk mengurangi derajat
kemarahan.Kadang-kadang seseorang yang marah dapat mengurangi
kemarahannyadengan mengambil nafas dalam-dalam-dalam beberapa kali
dengan menghitung sampai beberapa puluh atau menghadapi kemarahan itu
dengan senyuman,dan masih banyak lagi jalan yang ditempuh untuk
mengurangi kemarahan tersebut.
Dalam pertandingan –pertandingan adalah sukar untuk dapat menghilangkan
sumber dari kemarahan, sebab dalam dunia olahraga memancing kemarahan
lawan adalah disengaja dengan harapan kalau lawan itu sudah tidak sadar
lagi akibatnya dia ingin tetap bermain keras yang dapat mengakibatkan
banyaknya energi yang dikeluarkan sehingga pada suatu saat dia akan
kehabisan tenaga dan akan mudah dikalahkan.Hal-hal seperti tersebut di
atas harus disadari,dimengerti dan dikenali oleh para olahragawan,
jangan sampai dia terpancing oleh siasat lawan untuk menjadi marah.Ingat
marah memang dapat menimbulkan tenaga yang luar biasa,tetapi jangan
sampai mengakibatkan hilangnya pertimbangan akal dalam menyalurkan
timbulnya tenaga tersebut.Memanfaatkan tenaga tambahan itu, untuk
usaha-usaha yang produktif. Untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang
dapat ditimbulkan oleh kemarahan perlu dicari bagaimana cara merendahkan
kemarahan yang terjadi. Hal ini dapat diusahakan dengan cara:
Menghambat spontannitas tindak kemarahan
Mengurangi agresifitas tindakan
Menanggapi kemaran dengan usaha-usaha yang positif.
Melupakan atau menghilangkan / menghindari sumber kemarahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar